Skip to content

Tragedi Nabot: Tentang Tanah, Tradisi dan Kuasa (1 Raja-raja 21:1-16)

2 Agustus 2009

Bible.YizreelBagi Nabot, tanah yang ditanami kebun anggur itu tidak saja berfungsi sebagai sumber mata pencariannya. Lebih dari itu, tanah itu adalah simbol bagi setiap generasi keluarganya tentang nenek moyang mereka yang menancapkan tonggak sejarah di lembah Yizreel. Bagi Nabot, dan orang Israel, tanah adalah perjanjian.

Tanah adalah pemberian Tuhan bagi nenek moyang mereka sejak berabad-abad lalu. Bila dia mewarisinya kini, itu adalah simbol bahwa perjanjian manusia dengan Tuhan abadi dan kekal adanya. Tanah adalah manusia itu sendiri. Nabot tahu benar, bahwa dia adalah ciptaan yang berasal dari debu tanah dan akan kembali ke debu tanah, from dust to dust. Jadi, menyerahkan tanah warisan sama halnya menjual diri sendiri dan segenap silsilah keluarganya dari generasi ke generasi. Tanah bukan soal apa yang dia miliki dalam hidup. Tanah adalah soal memiliki hidup itu sendiri.

Namun sekali ini keyakinan Nabot menghadapi ujian. Ahab, sang raja, tergiur memiliki tanah Nabot. Alasannya, tanah Nabot dekat dengan istana kerajaan. Ahab menawari Nabot tanah lain yang lebih baik atau, jika Nabot mau, sejumlah uang sebagai ganti rugi. Nabot, yang sangat paham dan yakin dengan tradisi, bergeming. Jawabnya, “kiranya Tuhan menghindarkan aku memberi milik pusaka nenek moyangku kepadamu.”

Menolak raja adalah adalah mara bahaya. Ahab kecewa berat. Penolakan Nabot bukan hanya mementahkan hasratnya namun juga menggoyahkan keyakinan Ahab atas kekuasaannya sendiri.

Beruntung Ahab memiliki Izebel, istrinya. Perempuan ini merancang konspirasi. Bukan hanya mendapatkan tanah tetapi juga melenyapkan Nabot. Izebel tahu bahwa keyakinan Nabot berakar dalam tradisi. Untuk itu tradisi pulalah yang dapat memberangusnya. Izebel tidak menyuruh bala tentara untuk menggusur Nabot. Dia menggerakkan orang-orang seperti Nabot. Dan kematian paling tragis adalah kematian yang dilakukan sesama, tetangga, saudara.

“Adakan puasa dan suruh Nabot duduk paling depan,” perintah permaisuri. “Suruh juga dua orang dursila duduk di depannya dan bersaksi bahwa Nabot telah mengutuk Allah dan raja. Sesudah itu bawa dia ke luar dan lempari dengan batu sampai mati!”

Pada suatu hari sebuah perhelatan maut digelar. Sebuah konspirasi setan dijalankan. Seperti perintah Izebel, Nabot menjemput ajal bersama luka di sekujur tubuh. Dia tidak mati di tiang gantung oleh perintah raja. Dia mati oleh lemparan batu dari tangan orang-orang yang dikenalnya dengan baik. Dia mati oleh tradisi yang dia sendiri sangat meyakininya. (Ebenezer L. Gaol)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: