Skip to content

Sanggaran dan Sang Kala yang Berputar Lambat (2)

5 Agustus 2009

Catatan Ebenezer L. Gaol

Sanggaran-1Gereja HKBP Bonandolok terletak di pinggir jalan utama kota itu. Setali tiga uang dengan kondisi umum Bonandolok, gereja HKBP Bonandolok juga tampak sebagai bangunan tua yang sederhana. Bangunan gereja ini masih terbuat dari kayu. Jemaat di sini berdiri sejak 1909 dan menjadi salah satu ressort HKBP Distrik III Humbang. Ressort tersebut  terdiri dari 11 jemaat pagaran dengan 3009 jiwa dan 600 keluarga. Saat ini HKBP Bonandolok dilayani oleh Tunggul Situmorang sebagai pendeta ressort. Ds. RMG Marbun, mantan Bishop GKPI tahun 1990-an, pernah menjadi pendeta ressort HKBP Bonandolok pada tahun 1950-an tidak lama sebelum konflik di tubuh gereja HKBP yang melahirkan GKPI tahun 1964.

Dari Bonandolok dibutuhkan waktu tidak kurang 1 jam lagi untuk sampai ke Sitapongan. Desa ini didominasi oleh salah satu ranting marga Lumban Gaol. Jalan yang menghubungkan kedua tempat ini jauh lebih buruk dari sebelumnya. Menanjak, berbatu dan berliku. Jika Bonandolok dapat disebut sebagai pangkal pegunungan maka Sitapongan tepat disebut sebagai puncaknya.

Sebagai bagian dari kawasan Sijamapolang, Sitapongan juga salah satu sentra penghasil kemenyan. Namun karena kemenyan sudah tidak terandalkan maka penduduknya mulai beralih ke tanaman kopi. Sebagian penduduk mencoba kelapa sawit yang ternyata cocok di desa ini. Namun masih dengan jumlah yang sangat terbatas. Selain kelapa sawit, di pinggir jalan terlihat beberapa pohon kakao yang juga tumbuh dengan baik.

HKBP Sitapongan adalah jemaat pagaran HKBP Bonandolok. Kendati begitu, menurut penuturan seorang tetua desa marga Lumban Gaol, jemaat ini lebih dulu berdiri dari induknya HKBP Bonandolok. Penuturan ini masuk di akal sebab kemungkinan misionar yang mendirikan jemaat Sitapongan datang dari Parmonangan Tapanuli Utara. Jemaat HKBP Parmonangan sendiri berdiri tahun 1905. Semantara HKBP Bonandolok berdiri tahun 1909. Dari Sitapongan terdapat jalan pintas menuju Parmonangan. Namun kini jalan tersebut sudah jarang dilalui penduduk. Mungkin di era kemenyan jalan tersebut merupakan salah satu jalur perdagangan dari daerah Hurlang ke Sijamapolang. Barangkali keberadaan jalan itu pula yang membuat HKBP Sitapongan berdiri lebih dulu.

Mobil yang kami bawa dari Doloksanggul dititipkan di Sitapongan. Kampung ini mengambil model kampung Batak tradisional dengan rumah berbanjar di kedua sisinya berhadap-hadapan. Namun kami tidak menemukan lagi rumah Batak tradisional di sana. Rumah-rumah di kampung ini tidak lebih dari 10 buah. Lazimnya orang Batak, akibat pertambahan penduduk maka generasi yang baru mendirikan kampung lain di luar kampung induk. Sebuah pemukiman baru terdapat di seberang jalan utama, sebuah jalan antara Bonandolok dan Sitapongan. Satu lagi di sisi jalan antara Sitapongan dengan Sanggaran. Namanya Lumban Tobing.

Kami membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam berjalan kaki dari desa Sitapongan hingga menginjakkan kaki di batas Sanggaran. Jarak keduanya kurang lebih 11 kilometer. Kondisi jalan yang becek dan licin membuat perjalanan harus dilakukan dengan pelan.

Kami berangkat dari Sitapongan pukul 10.30. Rombangan kami dari Doloksanggul terdiri dari 7 orang, 3 di antaranya adalah perempuan. Dari Sitapongan kami terpecah menjadi tiga kelompok. Satu kelompok adalah Pendeta Anton Pasaribu dan Saya. Kelompok lain adalah Praeses Pendeta Dr. Bonar Nababan dan Pendeta Parsaoran Sinambela. Sementara perempuan menjadi kelompok sendiri.

Menuju Sanggaran dari Sitapongan adalah melalui rentang jalan menurun dan meliuk-liuk mengikuti punggung anakan pegunungan Bukit Barisan. Sejak tiga bulan terakhir sebenarnya pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan sudah memulai membuka akeses jalan dengan melebarkannya sehingga bisa dilalui dengan mobil. Pekerjaan pelebaran masih dilakukan saat kami mengunjungi Sanggaran. Beberapa alat berat masih nampak di sana melakukan pekerjaannya.

Hujan lebat yang turun sehari sebelumnya membuat kondisi jalan menjadi becek berlumpur. Hari itu Sabtu 11 Juli 2009, sewaktu mana kami melakukan perjalanan, hujan turun sejak pagi. Akibatnya jalan tidak hanya becek namun juga menjadi licin sehingga melangkahkan kaki pun harus dilakukan dengan hati-hati bila tidak mau terjungkal dan bermandi lumpur.

Jalan menurun dan meliuk-liuk antara Sitapongan dan Sanggaran adalah jalan yang membelah pegunungan anakan Bukit Barisan. Barangkali karena dikelilingi beberapa puncak gunung penduduk setempat malah tidak memberi nama-namanya. Menuju Sanggaran, sebelah kanan jalan adalah punggung gunung dan di kiri terbentang jurang dalam yang dilindungi oleh punggung gunung lain. Sedikit mengerikan namun tidak dapat menyembunyikan keindahan alam yang mempesona.

Di kedalaman jurang itu mengalir Sungai Aek Sibundong. Aek Sibundong berhulu di hutan Sitangi sebelah utara Doloksanggul. Sungai ini selanjutnya membelah kota Doloksanggul dan terus mengalir arah ke selatan. Melewati kawasan Sijamapolang Aek Sibundong selanjutnya bertemu dengan sungai-sungai lain yang lebih kecil membentuk Aek Sorkam. Aek Sorkam inilah yang bermuara ke Samudera Hindia.

Aek Sibundong adalah ikon romantisme kampung halaman yang terpelihara dengan baik di benak setiap anak rantau Doloksanggul. Sebuah lagu rakyat berjudul Aek Sibundong konon diciptakan para parrimba, milisi sipil yang direkrut menjadi pasukan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pimpinan Maludin Simbolon di akhir tahun 1950-an. PRRI sendiri merupakan gerakan daerah untuk mengoreksi ketimpangan Jawa-luar Jawa serta kritik terhadap dominasi PKI di dalam pemerintahan Soekarno.

Di masa itu Doloksanggul adalah salah satu basis penting PRRI. Maklum, salah satu pentolan PRRI adalah Josia Munthe, putra Doloksanggul, salah seorang generasi pertama orang Batak yang bersekolah di Pulau Jawa. Munthe adalah teman sekolah Maludin Simbolon di Hollands Inlandse Kweekschool (HIK) Solo, sebuah sekolah calon guru berbahasa Belanda yang diperuntukkan bagi pribumi. Sekolah ini berdiri tahun 1919.

Orang Batak lain yang bersekolah di HIK Solo di antaranya Ds. T.S. Sihombing Ephorus HKBP 1962-1974, Alfred Simanjuntak pendiri BPK Gunung Mulia dan pencipta lagu Bangun Pemuda Pemudi, E.L.Pohan pendiri Yayasan Musik Gerejawi (Yamuger) yang namanya sering kita temukan di Kidung Jemaat, Jonathan Nababan, ayah Pdt SAE Nababan Ephorus HKBP 1987-1998, Prof. I.P. Simandjoentak, pakar pendidikan dan ayah Marsillam Simanjuntak Mensesneg dan Jaksa Agung masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, dan SMA Pasariboe, pendiri UKSW Salatiga.

Lantaran terpesona dengan aliran nasionalisme sejak proklamasi kemerdekaan Simbolon dan Munthe beralih menjadi anggota Tentara Keamanan Rakyat (TKR) cikal bakal TNI. Sebelum memimpin PRRI Simbolon dikenal sebagai Panglima Tentara Teritorium/I yang kini dikenal sebagai Kodam I/Bukit Barisan. Saat melancarkan pemberontakan Simbolon berpangkat Kolonel sementara Munthe berpangkat Mayor.

Sama seperti kawasan Tapanuli lainnya, militansi pasukan PRRI di daerah Doloksanggul tentu tidak lepas dari keterlibatan Josia Munthe. Sampai-sampai pemerintah RI mendatangkan pasukan Siliwangi di bawah komando Letkol Umar Wirahadikusumah, yang belakangan menjadi wakil presiden, untuk menghentikan milisi sipil tersebut. Bukti-bukti kehadiran pasukan Siliwangi di Doloksanggul masih jelas hingga kini. Jalan utama kota Doloksanggul menuju Sidikalang dinamai Jalan Siliwangi. Ironisnya nama Josia Munthe diabadikan untuk sebuah jalan (tepatnya gang!) pendek di belakang Gedung Serbaguna Tumorang (d/h Bioskop Tumorang) Doloksanggul. Salah satu akses utama ke gang ini adalah Jalan Siliwangi!

Kehadiran pasukan Siliwangi menyebabkan pasukan paramiliter PRRI kabur ke hutan-hutan sekitar Doloksanggul. Beberapa di antaranya bahkan sampai ke hutan rimba di kaki pegunungan Bukit Barisan dekat Parsoburan, Toba. Itu sebabnya mereka disebut Parrimba.

Mungkin karena terpisah jauh dari kerabat membuat parrimba asal Doloksanggul menciptakan lagu Aek Sibundong. Di lagu itu digambarkan Aek Sibundong sebagai representasi ingatan dan kesadaran kolektif yang berfungsi sebagai medium pengobat rindu dan harapan bersatu kembali di Doloksanggul:

Aek Sibundong, na lao tudia nama ho? Parhasakmi mansai uli tudos hapas Palembang i madabu tu sampuran i. Aek Sibundong, na lao tudia nama ho? Tolong pasahat tonanghon tu si boru pargaulanhi. Molo masihol ho tu ahu laho ma ho tu aek i. I ma Aek Sibundong i di Doloksanggul nauli. Disi do au… (Bersambung) Sebelumnya

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: