Skip to content

Sanggaran dan Sang Kala yang Berputar Lambat (3)

8 Agustus 2009

Catatan Ebenezer L. Gaol

Sanggaran-2Di salah satu titik kelokan Aek Sibundong di jurang Sitapongan terdengar deru air terjun. Dari derunya yang membahana sepertinya sebuah air terjun dengan debit besar. Karena kedalaman jurang dan pandangan yang terhalang oleh pepohonan kami tidak berhasil melihat dengan jelas kecuali buih-buih air yang nampak dari ketinggian.

Beberapa saat sebelumnya Pendeta Anton dan Saya mampir sejenak di rumah seorang penduduk bermarga Lumban Gaol. Rumah ini terletak di desa Lumban Tobing yang berjarak tidak kurang 4 kilometer dari Sitapongan. Inilah satu-satunya kampung terdekat Sanggaran jika mengambil jalur Sitapongan.

Sambil menikmati air putih yang disuguhkan dengan ramah Lumban Gaol bercerita bahwa penduduk Sitapongan sebenarnya berasal dari Hutabatu, sebuah kampung dekat Onan Ganjang. Nenek moyang mereka sendiri merupakan migran dari Bakara. Sebelumnya, di Sitapongan saya juga bertanya hal yang sama kepada seorang sesepuh kampung bermarga Lumban Gaol. Jawabnya kurang lebih sama. Lantas saya bertanya mengapa Hutabatu dan Sitapongan? Sambil bergurau orang tua itu menjawab, “Ya, jika tidak pakai lopes (kain sarung) nenek moyang kita semestinya (migrasi) ke Medan!”

Lumban Gaol dari Lumban Tobing tadi juga bercerita bagaimana sulitnya kehidupan ekonomi mereka akibat kondisi jalan yang buruk. Selain itu mereka juga frustrasi dengan kemenyan yang semakin tidak berharga. Oleh karenanya dia, bersama penduduk lainnnya, lantas membudidayakan kopi. Kini mereka juga tengah mencoba kelapa sawit dan kakao.

Kelapa sawit dan kakao yang tumbuh baik di desa ini menunjukkan kesuburan tanahnya. Jika dibudidayakan dengan baik bukan tidak mungkin daerah Sijamapolang, khususnya Sitapongan, berpeluang mengembalikan kejayaan mereka. Namun semuanya berpulang kepada biaya ekonominya. Dengan kondisi infrastruktur jalan yang amat sukar biaya produksi yang dibutuhkan justru tidak ekonomis.

Lazim dipahami bahwa dengan kedaaan terisolasi harga-harga barang di Sitapongan melonjak akibat biaya transportasi yang tinggi. Demikian sebaliknya ongkos yang harus mereka tanggung untuk memasarkan hasil pertanian ke luar. Dengan biaya produksi tinggi komoditas dari daerah ini tentu akan kalah bersaing. Jika demikian sia-sia saja mengusahakan komoditas apapun dengan jumlah besar.

Saya lalu bertanya berapa orang bidan desa di sana. Jawabnya satu orang dan tinggal di Sitapongan. Seorang bidan itulah yang melayani ratusan penduduk yang tinggal berjauhan. Saya sulit membayangkan bagaimana jika seorang ibu melahirkan tengah malam. Dengan medan yang sulit, tanpa penerangan jalan, tanpa kendaraan, bagaimana proses kelahiran seorang ibu dapat segera tertolong oleh bidan yang tinggal 4 kilometer jauhnya?

Namun demikianlah hidup. Apalagi mereka yang tinggal di pedalaman seperti Lumban Tobing Sitapongan. Dengan atau tanpa bidan anak-anak mereka tetap lahir dengan selamat memenuhi bumi dan mengisi hidup dengan cara yang khas, cara mereka sendiri. Dengan segala kekurangan yang mereka rasakan hidup ini tetap dipandang sebagai sebuah kesempatan dan dengan cara yang sama diulangi lagi oleh generasi yang akan datang.

Lumban Tobing adalah kampung terakhir sebelum Sanggaran. Jarak keduanya sekitar 7 kilometer. Sepanjang sisi kanan jalan adalah tebing hutan belantara yang dipenuhi pohon kemenyan. Beberapa di antaranya merupakan pohon yang masih muda. Hal ini membuktikan dengan sangat kuat bahwa istilah si jama polang adalah sebutan yang sepenuhnya tepat bagi penduduk kawasan ini.

Pada hampir semua pohon berukuran besar getah kemenyan menempel di batangnya. Aroma yang khas kemenyan menyeruak memenuhi sekeliling. Konon sebuah pohon kemenyan akan menghasilkan getah sesudah berusia 8 tahun dan akan terus berproduksi selama 60 tahun berikutnya. Menurut mitos petani Humbang pohon kemenyan merupakan penjelmaan seorang perempuan. Oleh karena itu kaum perempuan dilarang terlibat dalam pengelolaannya. Selain itu pohon tidak akan menghasilkan getah jika laki-laki pemiliknya memperlakukan istri mereka dengan buruk atau sewaktu di hutan berbicara kotor, berbohong, menipu atau mencuri.

Ternyata sangat sulit mengambil getah yang menempel di pohon jika menggunakan tangan. Dibutuhkan alat bantu pemotong. Biasanya para petani menggunakan pisau melengkung yang disebut agat. Gagang pisau ini disebut agat panuktuk, fungsinya memukul-mukul kumpulan getah untuk mempermudah pengambilan. Mata pisau agat digunakan untuk mengorek getah tadi hingga terlepas dari batang pohon.

Para petani mengambil getah pada ketinggian lebih dari 2 meter di atas permukaan tanah. Untuk itu mereka harus memanjat dengan melilitkan tali polang pada sekeliling batang pohon. Tali polang ini berfungsi sebagai penyangga tubuh saat berada di ketinggian. Pada tali polang diikatkan pula sebatang kayu yang disebut gual. Gual berfungsi sebagai pegangan. Sebagai penyangga diikatkan pula sidegedegeon, batang kayu yang berfungsi sebagai injakan. Nah, karena fungsinya yang sangat penting itulah tali polang menjadi perlengkapan utama petani kemenyan. Dari sanalah istilah si jama polang berasal. Konotasinya  kurang lebih kaum pemegang tali polang.

Pada sebuah pohon yang berada di sisi jalan nampak sisa-sisa getah yang meleleh sampai ke bawah batang pohon. Pendeta Anton dan Saya lantas mengambilnya sedikit. Ternyata masih lembek seperti permen karet. Getah ini kemudian Saya campur dengan rokok. Rasa rokok menjadi lain dan bau asapnya semerbak kemenyan.

Di pedesaan Pulau Jawa kemenyan sering dicampur dengan tembakau dan cengkeh untuk menghasilkan rokok khas yang disebut klembak menyan. Jawa memang merupakan salah satu daerah tujuan utama kemenyan Humbang di mana petani Sijamapolang merupakan pemasok utama. Selain untuk rokok masyarakat Jawa juga menggunakannya sebagai bahan sesaji laku spiritual. Bau asap kemenyan yang khas mampu menimbulkan suasana magis. Suasana semacam itulah yang diyakini mengantarkan roh manusia ke dimensi spiritual.

Pada sebuah artikel di situs indospiritual.com tertulis, “rokok klembak menyan, bubur merah putih dan kemenyan dibakar adalah sesaji untuk tombak Kyai Tunggul Naga, tombak pusaka Kabupaten Ponorogo Jawa Timur. Kyai Tunggul Naga ini dulunya adalah pusaka milik Raden Batara Katong Adipati di Ponorogo pada awal masa pemerintahan Kasultanan Demak Bintara…”

Bulan Maret 2009 Kompas melaporkan bahwa sebelum persidangan korupsi mantan gubernur Jawa Barat Danny Setiawan digelar seorang dukun menyebarkan kemenyan di ruang sidang. Orang yang tepat dengan maksud yang jelas pada tempat yang ngawur. Sang dukun menebar sesaji di lantai 2 sementara sidang digelar di lantai 1. Walhasil, jaksa menuntut mantan gubernur hukuman seumur hidup!

Berdasarkan penelitian kemenyan juga berfungsi sebagai unsur penting bagi industri farmasi dan kosmetika. Kemenyan berfungsi sebagai inhaler pada pengobatan penyakit radang selaput lendir. Di Cina, para sin she menggunakan kemenyan sebagai campuran obat mengembalikan kesadaran, melancarkan darah dan mengurangi rasa sakit.

Sabun antiseptik Purol ternyata menggunakan kemenyan sebagai campurannya. Di Denmark dan Swedia kemenyan digunakan sebagai pengaya aroma roti. Di Jepang kemenyan digunakan sebagai bahan dasar permen karet. Di era compulsive buying behavior saat ini kemenyan mulai digunakan sebagai bahan spa dan aromaterapi. Oleh sebuah situs Afrika Selatan essential oil kemenyan ditawarkan seharga USD 11 untuk 11 ml.

Bagi orang Batak kemenyan, barangkali, tidak lebih dari barang dagangan semata. Bagi orang Sijamapolang, kemenyan adalah simbolisasi kemiskinan era globalisasi. Bagi orang Pandumaan dan Sipituhuta di Marbun Pollung kemenyan adalah sumber konflik dengan pabrik pulp raksasa yang oleh karenanya beberapa truk polisi menyerbu kedua kampung hanya untuk menangkap tiga orang penduduk. Mereka ditangkap dengan tuduhan menghalangi kegiatan produksi pabrik bersangkutan. Mereka bilang tindakan itu dilakukan karena pabrik pulp tidak henti-hentinya membabat pohon kemenyan untuk membuka akses jalan masuk ke dalam hutan.

Jelas masyarakat Humbang membutuhkan pencerahan mengenai potensi kemenyan yang sesungguhnya. Deretan pohon kemenyan yang memenuhi hutan menuju Sanggaran membuktikan bahwa secara kuantitas potensi komoditas ini masih prospektif dikembangkan. Namun potensi ini bisa saja sia-sia apabila harga dan pemasarannya tidak menggembirakan para petani. Dulu, di masa jayanya, kemenyan disetarakan dengan emas. Saat itu harga 1 kilogram kemenyan setara dengan harga 1 gram emas. Kini harga kemenyan hanya sepertiga gram emas atau malah seperempatnya.

Para petani Sitapongan dan Sanggaran masih mengantar kemenyan ke onan Bonandolok. Namun berbeda dengan zaman dulu yang membawa langsung ke Barus seterusnya ke Cina, India, Afrika dan Timur Tengah kini para pedagang pengumpul di onan Bonandolok menyerahkannya ke pengumpul besar dari Doloksanggul. Pedagang Doloksanggul mengirim ke eksportir di Pematangsiantar, Medan atau Jawa. Di Jawa sebagian besar kemenyan Humbang ditampung di Magelang dan Purwokerto. Sebagian lagi di Jakarta dan Surabaya.

Para pedagang Pematangsiantar dan Medan kemudian mengekspor ke Singapura. Sebuah monograf terbitan FAO tahun 1998 menyebutkan bahwa Singapura merupakan pelabuhan ekspor kemenyan terbesar di dunia. Sepanjang tahun 1995 saja lebih dari 1000 ton kemenyan Indonesia diekspor ke negeri Singa. Hampir 700 ton di antaranya dikirim lewat Belawan dan sisanya lewat Batam.

Dari Singapura sebanyak 47% diekspor ke Arab Saudi dan 20% ke Djibouti, sebuah negara kecil di Afrika Tengah. Negara tujuan lain adalah India (18%), Srilanka dan Malaysia masing-masing 16%. Negara-negara lain pengimpor besar kemenyan dari Singapura adalah Uni Emirat Arab, Yaman, Ethiopia, Maroko, Nigeria dan Tunisia.

Jika 1 kilogram kemenyan ekuivalen dengan Rp 100.000 maka nilai ekspor kemenyan Indonesia ke Singapura tahun 1995 saja mencapai Rp 100 miliar. Dapat diduga bahwa hampir 100% kemenyan ekspor ke Singapura berasal dari Humbang Hasundutan dan Tapanuli Utara. Pertanyaannya berapakah yang tinggal pada petani di kedua kabupaten itu? Berapakah yang tinggal pada petani Sijamapolang? Mengamati kondisi Bonandolok dan Sitapongan nampaknya petani kemenyan di sana tidak mendapat jumlah yang memadai.

Kemungkinan besar harga jual dari petani terpaut jauh di bawah. Mata rantai perdagangan yang panjang bisa jadi merupakan biang kerok harga jual petani yang rendah. Di sisi lain, model pembayaran pedagang pengumpul yang seringkali tidak tunai mempengaruhi semangat petani untuk terus mengandalkan kemenyan sebagai sumber penghasilan utama.

Sepanjang posisi tawar petani masih rendah maka harga kemenyan tetap saja rendah dan tidak berpihak kepada mereka yang turun-temurun susah-payah mengusahakannya. Yang membuat masygul, para petani tetap tidak paham untuk apa sebenarnya getah yang mereka ambil berhari-hari dari dalam hutan disertai banyak pantangan dan mitos segala itu. (Bersambung) Sebelumnya

2 Komentar leave one →
  1. 16 Desember 2009 4:41 pm

    tulisan yg menyentuh…gugatan terhadap pemerintah untuk segera membuka matanya memberikan fasilitas dan akses terhadap petani kemenyan yg konon merupakan sda unggulan dan ikon humbang…dibutuhkan ‘orang-orang’ yg peduli dengan kelestarian kemenyan dan petani kemenyan…

Trackbacks

  1. Sanggaran dan Sang Kala yang Bergerak Lambat (4) « HKBP DISTRIK III HUMBANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: