Skip to content

Sanggaran dan Sang Kala yang Bergerak Lambat (4)

15 Agustus 2009

Catatan Ebenezer Gaol

Sanggaran-4Semerbak wangi kemenyan. Hujan rintik-rintik. Jalan berlumpur. Mendaki, meliuk dan menurun. Di pinggir jalan onggokan bebatuan gunung yang hancur akibat pelebaran jalan.  Sebagian longsor menempel di bibir jurang. Lamat-lamat bunyi deru air terjun masih terdengar. Selebihnya sunyi. Sanggaran adalah sebuah perjalanan panjang menembus sepi. Inilah bumi yang seolah enggan dengan kemeriahan. Untuk sekian lama.

Di tengah perjalanan kami melihat satu, dua dan tiga mobil mogok. Seluruh rodanya terperosok ke dalam lumpur. Mobil? Ya. Para perantau yang hendak mudik untuk mengikuti perayaan jubileum 100 tahun HKBP Sanggaran mengira bahwa jalan ke kampung mereka sudah dengan mudah dilalui mobil. Mungkin mereka mendengar berita bahwa Pemkab Humbang Hasundutan sudah membangun jalan. Kabarnya pekerjaan itu dilakukan semata-mata untuk menyemarakkan perayaan jubileum. Kabarnya lagi, bupati dan rombongannya termasuk di antara undangan yang akan hadir.

Karena hujan lebat beberapa hari sebelumnya jalan tanah yang belum dilapisi batu dan aspal itu berubah menjadi gumpalan lumpur. Mobil-mobil itu membuatnya menjadi lebih parah. Jalur yang dilalui roda berubah menjadi kubangan-kubangan kecil yang amat menyulitkan sepeda motor dan pejalan kaki melewatinya.

Pemandangan semacam itu seolah memberi kesan jelas bagaimana Sanggaran bertemu dengan kekinian. Ternyata belum dapat bersentuhan. Keduanya tertahan oleh ruang dan lintasan yang tanpa ampun tidak memberi kesempatan. Yang tersisa adalah ironi saat menyaksikan sebuah Toyota Fortuner diam tak berdaya keluar dari kedalaman lumpur. Hujan rintik dan angin yang menyentuh dedaunan pohon kemenyan. Sunyi. Sepi. Diam.

Tak dinyana, di kejauhan kami mendengar deru mesin sepeda motor. Tak lama terlihat dua orang sedang duduk di pinggir jalan sambil merokok. Segera kami menghampiri. Keduanya ternyata baru pulang dari Sanggaran mengantar penumpang. Si pengendara motor berkata bahwa penumpangnya adalah perantau asal Sanggaran yang mudik untuk ikut merayakan jubileum itu. Sama seperti kami. Seorang lagi membawa barang bawaan si penumpang dengan berjalan kaki. Katanya, si pemilik barang bekerja di Pertamina. “Dari Sitapongan ongkosnya 150 ribu rupiah,” tuturnya.

Kami ikut duduk. Si pengendara motor bercerita. Di atas jalan yang berubah jadi kubangan si penumpang hanya bisa duduk di atas motor sepertiga perjalanan. Artinya hanya sampai Lumban Tobing tempat kami sebelumnya beristirahat sejenak. Selebihnya jalan kaki. Motor yang ditumpangi tidak kuat melewati kedalaman lumpur. Mesin motor dibiarkan hidup. Seluruh bodi dipenuhi lumpur.

Dari belakang kami menyusul lagi dua orang pejalan kaki dengan langkah cepat mendaki. Seorang membawa tiga buah tas dan seorang lagi memanggul sebuah loud speaker. Keduanya penduduk Sanggaran yang ditugasi panitia untuk membawa peralatan pesta yang sore itu akan dimulai. Mereka berdua tidak tampak lelah.

Zaman dulu orang Sanggaran menggunakan kuda mengangkut barang-barang. Kini hewan itu tidak ditemukan lagi di sana. Humbang, atau tepatnya Doloksanggul, dan kuda memang memiliki hubungan dekat. Pada lambang kabupaten Humbang Hasundutan digambarkan seekor kuda berdiri di bawah sebuah pohon kemenyan.

Namun sebuah perubahan terjadi. Entah sejak kapan dan apa sebabnya orang Doloksanggul memiliki kebiasaan mengkonsumsi daging kuda. Gara-gara itu orang Doloksanggul sering ditegur dengan panggilan, “hoda…!” Bagian yang paling digemari adalah palia-palia atau usus 12 jari. Bentuknya memang seperti jejeran buah palia atau petai terbungkus kulitnya. Rasanya khas, kenyal dan nikmat di lidah. Saya menduga, kebiasaan mengkonsumsi kuda itu menjadi penyebab perubahan fungsi hewan ini. Kuda tidak lagi menjadi alat pengangkut tetapi lauk di atas piring makan. Mak nyus!

Dengan kuda yang berubah menjadi santapan hidup orang Sanggaran menjadi lebih sulit. Fungsi kuda kini digantikan manusia terutama saat musim hujan yang membuat jalan sama sekali tidak dapat dilalui motor. Bersama rasa nikmat yang dialami orang Doloksanggul saat menyantap daging kuda dan derap kemajuan zaman Sanggaran malah melangkah mundur.

Karenanya Saya tidak lagi bertanya mengapa mereka punya tenaga digdaya. Sejatinya Sanggaran menempa manusianya menjadi pejalan kaki yang hebat. Medan sulit adalah bagian dari masa tumbuh setiap anak yang dilahiran di sana. Mereka terbiasa memikul barang-barang untuk dibawa masuk dan keluar desa itu. Kemenyan, kopi, padi serta hasil bumi lainnya. Jadi apa yang luar biasa melihat seorang pemuda tanggung yang kurus memanggul sebuah pelantam berukuran hampir dua setengah kali besar badannya?

Seperti itulah orang Sanggaran. Hidup terbiasa dengan beban yang mustahil dapat dipikul. Tetapi bukankah kehidupan itu terlalu berharga untuk dihabiskan dengan sungut-sungut? Bukankah kemenyan di sekeliling mengajarkan sebuah keabadian sikap untuk tetap tegak melintasi gelombang waktu sekeras apapun hantamannya? Sepahit apapun?

Kedua orang itu berhenti. Lantas bersama mereka perjalanan kami lanjutkan kembali. Kini kami berempat. Namun tak sabar pemuda tanggung pemanggul pelantam mengikuti langkah kaki kami yang lambat. Dia pamit duluan dan melangkah cepat seolah-olah tidak terbeban oleh benda besar dipundaknya. Tidak berapa lama dia menghilang di balik tikungan. Mungkin di dalam hati dia mentertawai kami. (Bersambung) Sebelumnya.

4 Komentar leave one →
  1. 16 Desember 2009 4:15 pm

    tabo jaha on tulisan on bah…kian dekat dengan kultur humbang…

  2. Sola gratia l.gaol binti sanggam permalink
    6 Februari 2010 3:40 pm

    Cerita ini baik untuk dibaca karena menambah pengetahuan tentang kehidupan dan mengetahui apa itu sanggaran dan sanggaran itu dimana

  3. Ipenli permalink
    26 Maret 2010 3:40 pm

    Tulisan yang keluar dari hati, hasil dari seorang penikmat kehidupan, …
    memang membawa diri yang membaca seolah hadir di sana…

  4. Jetro Manalu permalink
    14 Oktober 2010 5:36 pm

    Membaca tulisan ini seolah mengurai masa kanak-kanakku, masa lalu Orang tuaku, dan bayang-bayang sauadara-saudaraku di Bonapasogit.
    Saya lahir dan sempat sekolah SD di Sanggaran. Huta ini terasa asing buat sebagian besar orang, bahkan orang humbang sekalipun. Umumnya, jika orang menanyakan asal kampung bagi kami yang berasal dari sana, akan lebih pede menyebut Onan Ganjang, atau Dolok Sanggul.
    Sekedar menambahkan:
    Huta ini sangat mengesankan dan menyimpang sejuta kenangan dan tanya untuk saya. Mengesankan karena keindahannya, terutama saat padi di sawah menguning. Sawah melingkupi 2/3 dari huta yang diapit oleh 3 gunung ini. Dan menjadi pertanyaan, Bagaimana dulu nenek moyang kami menemukan huta ini, dan kenapa memilih tinggal di daerah terisolasi ini?
    Di tengah huta yang terdiri dari 2 sub bagian yaitu Toruan dan Julu mengalir sungai yang berwarna hitam, hitam karena airnya bersumber dari 2 celah gunung yang menjadi jalan ke Janji dan Sanggaran 2. Sesungguhnya, ada 4 jalan menunju Sanggaran. Satu dari Sitapongan untuk menghubungkan ke Bonan Dolok. Ke dua dari Huta tua, jalan ini jarang dilalui kecuali buat doli2 yang mau martandang atau warga yang memiliki ikatan kerabat di Huta tua. Ke-tiga dari Janji Nagodang, jalan ini lebih sering digunakan karena warga biasanya mar-onan ke Onan ganjang dan anak-anak yang melanjutkan sekolah ke SMP, dst. memilih kost di Onan Ganjang maupaun Dolok Sanggul, meskipun sebenarnya medan jalan yang satu ini jauh lebih berat. Ke-empat, ke Sanggaran dua. Konon, jalan in dulunya menjadi jalan alternatif perdagangan dari Barus ke Humbang. Para pedagan jaman dulu melewati jalan ini untuk membeli garam dari Barus yang dibawa dengan cara mangalanja (dipikul), yang dibayar dengan Haminjon atau Kapur Barus. Medannya sangat sulit, biasa di lalui Parhaminjon (petani Kemenyan) melewati celah gunung, menanjak sampai ke puncak yang akan ditandai dengan terlihatnya hamparan Samudera Hindia,kemudian menurun sampai tiba di Sanggaran 2. Saya sendiri sudah 3 kali melewati jalan ini, dimulai di usia 6 tahun karena Ibu saya berasal dari Sanggaran 2.
    Terima kasih atas kesempatannya bisa share di laman ini. Tuhan menyertai kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: